-Hari Ketujuh- Komunikasi Produktif dengan Rumaysha
Pagi ini sebuah kabar kurang baik menimpa si mbak yg membantu saya menangani urusan domestik rumah, suaminya terkena kecelakaan, tertabrak mobil. Jadi lah jm 8 pagi mbaknya harus izin pulang sebelum pekerjaannya selesai. Dan saya? Ya, saya harus ikhlas membersamai ketiga balita saya sambil menyelesaikan sisa pekerjaan yg belum sempat dipegang si mbak.
Setelah selesai mengantar si sulung pergi ke sekolah, saya lanjut hadir di kelas bhs arab di masjid dengan kedua balita, Raysha dan Rayyan. Raysha sempat merengek meminta sesuatu tp tidak sampai tantrum seperti pekan sebelumnya, mungkin karena kelas bhs arab pekan ini tidak lama, hanya berlangsung sekitar 45 menit.
Sesampainya di rumah, saya berniat untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya coba berkomunikasi dengan Raysha. "Nca, tolong ajak main Rayyan dlu yaa, ummi harus cuci piring, jemur baju dan masak nasi" dan Raysha dengan sigap mengajak adiknya bermain di kamar, saya pun langsung melipir ke dapur. Tidak lama, Rayyan langsung menghampiri dan mondar mandir di belakang saya yg sedang cuci piring, hmm, nampaknya kegiatan bermain harus dipindah ke dapur ini supaya saya bisa bebas beraktifitas tanpa 'digondeli' anak bayik.
Selesai cuci piring, saya ambil piring dan sendok plastik lalu saya berikan ke Rayyan, dia pun sibuk memainkannya. Saya lalu beralih menjemur pakaian. Raysha lalu berkata, "Nca bisa bantu ummi jemur" Saya pun merespon, "Oh iya, Nca mau bantu Ummi?" Lalu saya mengambil jemuran bulat dan saya gantung rendah, lalu saya ambilkan bbrp baju anak2 utk dijemur disana. Saya ajarkan Raysha bagaimana cara menjemur kaos atau celana. Raysha nampak sangat gembira bisa membantu menjemur pakaian. Setelah bisa menjepit salah satu baju, saya berikan pujian, "Yeeayy Nca hebat udh bisa jepit bajunya, ayoo lagi Nca" ia pun melanjutkan mengambil baju yg lain. Ah, ternyata musibah pagi ini berbuah manis, mengajarkan anak perempuan pekerjaan rumah tangga juga adalah salah satu hal penting dalam pendidikan di rumah yg menjadi tanggung jawab saya.
Setelah semua pekerjaan selesai, saya kembali bersiap menjemput si sulung. Raysha dan Rayyan tentu saja ikut serta. Ada hal yg lupa saya lakukan, Raysha sepagian tidak bilang mau pipis dan saya pun tidak mengajaknya ke kamar mandi karena kesibukan. Sepulang dari sekolah Rasyid, kami mampir ke masjid karena ada undangan untuk makan siang bersama di teras masjid. Setengah jam berjalan, Raysha menghampiri saya dengan gestur yg aneh, seperti menahan pipis, tp tidak berkata apa2. Ketika saya tanya, "Nca mau pipis?" Ia tidak menjawab, lalu pergi bermain lagi. Kira2 5 menit kemudian Raysha kembali lagi dan berkata, "Nca mau pipis" lalu saya bergegas mengantarnya ke kamar mandi masjid. Ketika saya hendak mengambilkan sandal, Raysha turun ke lantai kamar mandi sambil berlari dan tiba2 celananya basah, ia tidak dapat lagi menahan pipisnya, cairannya sedikit menetes ke lantai masjid. Saya langsung menghela nafas lalu mencari kain lap di teras masjid, setelah saya lap cairan yg menetes ke lantai, Raysha saya antar ke tempat wudhu utk mencuci kakinya yg basah. Saya berkata kepada Raysha dengan tenang tp tegas, "Nca ngga boleh masuk lg ke masjid ya krn Nca celananya ada najis. Nca juga ngga bisa pulang naik motor krn celananya basah. Sekarang Nca jalan sendiri pulang ke rumah, tunggu ummi di teras, ummi mau beberes dlu trus ambil motor baru pulang." Raysha yg biasanya tidak mau sendiri, tanpa berkata-kata lalu jalan pulang menuju rumah. Setelah berpamitan dengan ibu2 yg lain, saya pun mengajak Rasyid dan Rayyan pulang. Rasyid sempat bertanya, "Nca dimana mi?" Dan saya jawab bahwa Raysha pipis di celana dan saya memintanya pulang sendiri ke rumah. Di tengah perjalanan, saya melihat Raysha tidak berjalan, melainkan berhenti di depan salah satu rumah. Saya bertanya, "kenapa Nca ngga jalan pulang?" Ia menjawab, "Nca takut gerimis" memang saat itu cuaca mendung dan tetesan air hujan mulai turun kecil-kecil. Disitu hati saya bergetar, ada rasa kasian kepada Raysha walau sebelumnya ia sempat membuat saya kesal bukan main. Saya sempat berkata, "udah Nca jalan lagi, udah deket lagi ke rumah", tp Raysha menolak, "ngga, Nca mau naik motor" Saya lalu meminta Rasyid utk turun menemani Raysha berjalan kaki, alhamdulillah Rasyid setuju, dan Raysha pun mau kembali berjalan menuju rumah.
Setibanya di rumah, saya lalu membersihkan badan Raysha sembari ngomel bertanya kenapa ia menahan pipis sampai begitu lama dst, Raysha sama sekali tidak membantah, ia hanya diam, seolah mengakui kesalahannya. Kami lalu bersiap utk tidur siang. Saat menjelang tidur, saya berkata kepada Raysha, "Nca besok2 ngga boleh pipis di masjid lagi ya, klo mau pipis jangan ditahan lama2, harus langsung bilang ummi" dan Raysha menjawab, "iya Nca janji" dan ia pun memberikan jari kelingkingnya kepada saya. Aaah so sweet sekali kamu, Nak.
Demikian hikmah yg saya dapatkan hari ini, salah satunya adalah tentang menahan diri kepada anak, bahwa memberikan pelajaran kepada anak tidak harus dengan kekerasan. Dengan sikap yg tegas tp tetap tenang, anak teta bisa menangkap pesan dimana kesalahannya, menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulangi kembali.
Comments
Post a Comment