-Hari Kelima- Komunikasi Produktif dengan Rumaysha

Perjuangan saya dalam menjalin komunikasi produktif dengan si shalihah cilik mendapatkan ujian hari ini. Kebiasaan lama Raysha tiba-tiba muncul lagi dan sukses menghancurkan pertahanan saya.
Beberapa hari ini jadwal harian anak2 memang terganggu. Jadwal makan dan tidur/istirahat menjadi tidak teratur karena berbagai acara keluarga yg digelar di rumah ortu kami, yangti & yangkung-nya 3R. Hal ini membuat kondisi fisik anak2 terganggu, mereka jadi sulit istirahat nyenyak dan terserang batuk kering 2 hari belakangan. Saya fikir anak2 masuk angin.
Pagi hingga siang ini anak2 beraktifitas seperti biasa krn acara puncak dari rangkaian acara pernikahan tantenya 3R sudah selesai. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama saudara2 dari jauh yg masih menginap di rumah. Menjelang sore hari setelah mandi, anak2 baru mengantuk dan tertidur.
Tiba-tiba, menjelang maghrib, Raysha terbangun dengan gelisah dari tidurnya dengan gestur seperti sesang menahan pipis. Saya yg sedang menyusui adiknya yg juga baru saja terbangun segera meresponnya. Saya meminta Raysha utk bangun dan bersegera ke kamar mandi. Raysha menolak, ia ingin ke kamar mandi dengan saya. Efek lelah & ngantuk yg tertahan membuat saya emosi dan akhirnya memaksanya utk segera ke kamar mandi sendiri karena saya khawatir Raysha tidak sanggup menahan dan akhirnya ngompol. Raysha akhirnya mau beranjak daro tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Setelah Rayyan tertidur kembali, saya beranjak ke kamar mandi mencari Raysha. Ia sudah selesai dari kamar mandi, yangti-nya yg membantu membersihkannya. Ternyata Raysha sudah tidak mampu menahan pipis dan akhirnya pipis di celana ketika sampai kamar mandi. Raysha ketika itu dalam kondisi miring menahan tangis, seperti ada rasa kesal, sedih dan lelah tergambar di wajahnya. Tapi saya, yg juga merasakan hal yg sama tidak mampu membacanya saat itu juga, saya malah melampiaskan kekesalan saya dengan berkata kepada Raysha sambil memakaian celana, "kenapa nangis? Udh ngompol, kenapa malah nangis?" Bahasa judging saya ini nampaknya berdampak besar memperburuk kondisi hati Raysha. Raysha kemudian mulai menangis dengan kencang. Emosi saya makin meninggi mendengar taangisnya. Saya lalu berkata, "diam, jangan nangis, Rayyan-nya tidur, nti kebangun, ummi mau sholat maghrib" dan kata2 saya makin memperburuk suasana. Raysha menangis sesenggukan sambil sesekali berteriak. Saya minta Raysha utk berbaring di kasur lantai di ruang tamu agar bisa tenang. Raysha mengikuti permintaan saya tp ia kemudian bangun lagi mungkin karena sulit bernafas akibat telah lama menangis. Setelah ibu saya datang, saya meninggalkan Raysha dlm kondisi menangis, utk menjalankan sholat maghrib.
Selama saya sholat, Raysha masih terdengar menangis sekalipun sudah dibujuk oleh yangti-nya. Selesai sholat dan berdoa, saya sadar bahwa saya telah salah. Saya mencoba menenangkan Raysha dengan memeluknya, tangisnya agak mereda dan ia mencoba utk mengatakan sesuatu. Kata2 Raysha ketika itu sulit terdengar krn ia mengatakannya sambil menangis. Saya membujuknya utk tenang tp tetap tidak bisa. Akhirnya saya faham bahwa ia ingin tidur di kamar dengan Rayyan. Raysha masuk kamar sambil terus saja sesenggukan sampai Rayyan akhirnya terbangun. Saya makin sulit menguasai situasi karena sekarang ada 2 anak yg butuh perhatian saya. Ketika Rayyan menyusu ke saya, Raysha tetap bersandar di bahu saya masih dlm kondisi menangis sesenggukan dan belum bisa ditenangkan.
Akhirnya, ketika Rayyan sudah selesai menyusu, Rayyan diambil oleh yangti-nya dan saya mencoba lagi berkomunikasi dengan Raysha. Saya duduk di depan Raysha, saya tatap matanya, dan saya berkata "Raysha sudah ya menangisnya, coba tenang" tapi Raysha tetap sesenggukan dan belum ada tanda2 akan mereda. Ketika itu adik2 saya yg mungkin karena kasihan melihat Raysha menangis lama sekali, dan juga kesal mendengar Raysha menangis tidak kunjung henti, ikut menghakimi Raysha. Saya yg juga terpancing emosi akhirnya mengancam akan mengeluarkan Raysha dari dalam rumah klo ia tidak juga bisa tenang. Raysha makin menangis histeris sambil berkata "ngga mau di luar, ngga mau di luar" yg saya fahami sekarang bahwa mungkin ketika itu ia makin bingung dan takut krn tidak bisa mengontrol dirinya utk berhenti menangis, tp juga tidak ingin tinggal di luar rumah.
Saya lalu memeluk erat Raysha lagi sambil mengelus-elusnya, saya berkata bahwa saya tidak akan mengeluarkannya dari rumah klo ia bisa tenang. Saya menawarkan Raysha minum air putih sambil saya bacakan surat al fatihah, al ikhlas, al falaq dan an naas, Raysha lalu meminumnya dan setelah itu lumayan agak tenang walau masih belum juga berhenti sesenggukan. Saya kemudian berfikir utk menggunakan cara 'pengalihan'. Saya mengambil handphone dan mencoba mencari gambar my little pony kesukaan Raysha. Raysha sempat menolak melihat layar hp, sampai akhirnya saya menunjukkan satu gambar keenam sekawan little pony dengan raut wajah berbinar. Saya juga berkata, "ummi suka yg warna biru, yg ekornya pelangi ca, lucu. Klo Nca sukanya yg warna apa?" Disitu kemudian Raysha berhenti sesenggukan dan akhirnya bisa fokus melihat layar hp. Menit selanjutnya, Raysha sudah sibuk melihat-lihat gambar my little pony dan mulai cerewet menceritakan warna-warna mereka. Saya bersyukur badai tangisan Raysha akhirnya reda.
Yaa Allah Yang Maha Menguasai Hati, Yang Maha Lembut lagi Maha Bijaksana, hamba mohon ampunan dan mohon perlindungan atas segala godaan jin dan manusia. Hingga detik ini, hamba masih bingung apa sebab Raysha menangis sesenggukan dan sulit dihentikan, entah itu karena faktor fisik & psikisnya saja atau karena gangguan makhluk gaib. Wallahu'alam bishshowab.
Komunikasi produktif saya hari in dengan Raysha mungkin gagal berkali-kali karena saya emosi. Berkali-kali saya menerapkan cara komukasi yg salah dalam menghadapi Raysha yg sedang menangis dan sulit ditenangkan. Tapi saya tidak menyerah, dan hidayah Allah akhirnya datang dlm bentuk metode pengalihan perhatian. Semoga saya dan Raysha tidak perlu menghadapi situasi seperti ini lagi, dan kalaupun harus kembali menghadapinya saya bisa lebih siap mengalihkan perhatian Raysha sehingga tidak perlu menangis begitu lama. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

#Hari Kedua# Games Keluarga Multimedia