-Hari Keempat- Komunikasi Produktif dengan Rumasyha
Hari ini adalah hari yg istimewa bagi kami. Salah seorang anggota keluarga dekat melangsungkan pernikahan hari ini. Hari ini kami sibuk turut serta dalam persiapan, proses sampai dengan penutupan acara yg berlangsung dari pagi hingga malam hari. Istimewa, karena hari ini kami akan bertemu dengan keluarga besar dari pihak uti & kung-nya 3R, ayah & ibu saya.
Interaksi saya dengan Raysha hari ini tidak banyak, juga tidak lama karena saya bbrp kali harus membantu berlangsungnya acara pernikahan. Raysha, dan juga Rasyid & Rayyan lebih banyak diasuh oleh abinya, juga bbrp anggota keluarga yg lain. Hanya ada satu momen yg saya ingat sebagai momen komukasi produktif dengan Raysha.
Siang hari, saat prosesi upacara adat pernikahan berlangsung, Raysha sempat menangis di gendongan abinya. Abinya berkata bahwa Raysha takut dengan sosok laki2 berambut gondrong yg menari saat upacara adat tsb. Saat itu memang penampilan laki2 agak menyeramkan. Bahkan menurut abinya, Raysha menyebut sosok2 laki2 paruh baya itu sbg penyihir, hehe.
Saat ishoma, saya berdialog dgn Raysha,
U : "kenapa Nca takut?"
R : (tidak menjawab)
"Nca ngga mau ke panggung (red : tempat resepsi) klo ada kakek2nya. Nti klo kakek2nya jalan ke Nca, nti Nca digigit"
Hmm, jadi Raysha berimajinasi bahwa kakek2 itu adalah tokoh yg bisa mengancam dirinya.
Saya lalu menjelaskan dengan perlahan bahwa sosok laki2 itu bukan penyihir, tp dia penari. Sosok laki2 itu tidak lama ada di tempat resepsi, melainkan hanya sebentar dan dia akan pulang, jadi Raysha tidak perlu takut lagi.
U : "kenapa Nca takut?"
R : (tidak menjawab)
"Nca ngga mau ke panggung (red : tempat resepsi) klo ada kakek2nya. Nti klo kakek2nya jalan ke Nca, nti Nca digigit"
Hmm, jadi Raysha berimajinasi bahwa kakek2 itu adalah tokoh yg bisa mengancam dirinya.
Saya lalu menjelaskan dengan perlahan bahwa sosok laki2 itu bukan penyihir, tp dia penari. Sosok laki2 itu tidak lama ada di tempat resepsi, melainkan hanya sebentar dan dia akan pulang, jadi Raysha tidak perlu takut lagi.
Siang itu saya langsung menidurkan Raysha karena saya fikir dia mungkin berimajinasi karena sudah lelah dan ngantuk sehingga memiliki ketakutan berlebihan. Setelah bangun tidur, kondisi Raysha fresh kembali dan tidak takut lagi ketika diajak kembali ke tempat resepsi yg tidak jauh dari rumah ortu saya.
Hari ini saya belajar, berkomunikasi produktif dengan anak harus memperhatikan tempat dan waktu (situasi) agar lebih efektif. Selain itu, perlu juga memperhatikan kondisi anak ketika diajak berkomunikasi, apakah dia dalam kondisi segar bugar ato tidak. Faktor lelah, mengantuk, lapar atau sakit bisa menghambat proses komunikasi walaupun sudah menggunakan teknik komunikasi produktif sekalipun.

Comments
Post a Comment