-Hari Kedelapan- Komunikasi Produktif dengan Rumaysha

Fiuuuhh, tidak terasa ini tulisan saya yg ke sembilan di blog ini. Saya baru sadar bahwa 'menulis' adalah salah satu passion saya. Seandainya sejak dulu saya meluangkan waktu lebih disiplin untuk menuliskan pemikiran dan unek-unek mungkin hidup saya lebih produktif dan minim stress. Saya merasakan menulis blog jadi bagian indah dari hari-hari saya selama kurang lebih 8 hari ini. Dan ternyata, hobi 'diskusi' yg dulu saya sukai, dan kini terhambat karena saya bekerja di ranah domestik bersama anak-anak saja, dapat saya tuangkan di kegiatan 'menulis' ini. Bahkan saya bisa bebas mencurahkan tema pembicaraan apapun yg kadang melintas atau bahkan berkecamuk di kepala saya. Biasanya, ide-ide itu baru bisa tersalurkan dan saya baru bisa merasa lega jika saya sudah sharing dengan seseorang. Tapi kini, saya sendiri bisa menumpahkan apapun isi kepala saya di blog ini. Aaah, terima kasih IIP, yg sudah memaksa saya membuat sebuah blog.
Bentuk komunikasi produktif saya dengan Raysha hari ini saya tuliskan yg memiliki POI yg sama, yaitu saat saya coba lebih memahami perasaan Raysha.
Sore kemarin, Raysha sedang bermain dengan Rasyid. Mereka bermain bersama di kamar, entah permainan apa yg awalnya dimainkan, tp yg saya lihat kemudian Rasyid sedang membawa sajadah di kepalanya. Adegan selanjutnya, Raysha berteriak, "Mas ngga boleh kaya gitu, klo kaya gitu kaya hantu" dan ia pun menahan tangis, dari matanya saya tau Raysha ketakutan. Rasyid yg sebenarnya tau adiknya takut malah sengaja kembali menyelimuti kepalanya dengan sajadah, dan Raysha kembali berteriak. Ketika Rasyid sudah membuka kepalanya, saya coba berkomunikasi, "Mas, Nca ngga suka Mas kaya gitu, Raysha takut. Sajadah kn utk sholat Mas, atau bisa dikalungkan di leher kaya pak ustadz", saya coba menjelaskan dan menawarkan solusi kepada Rasyid. Saya lalu menghampiri Raysha, saya memeluknya, tanhis Raysha pecah (tanda ia mengiyakan pertanyaan saya. Saya kemudian bertanya, "Nca takut? Kenapa? Itu kn dalemnya Mas, cuma ditutupin pakai sajadah". Raysha menjawab, "kalo ditutupin kaya gitu kn kaya hantu" saya langsung merespon, "Nca ngga usah takut, Nca kn anak sholihah, ngga usah takut, kn ada Allah, ada ummi dan abi, lagian itu kn Nca tau itu dalemnya mas". Raysha kemudian bisa menahan tangisnya, kemudian tersenyum dan berkata, "iyaa, itu kn mas dalemnya, ngga usah takut" ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Raysha pun kembali bermain dengan Rasyid.
Malam harinya, saat anak-anak sedang bermain sambil bernyanyi lagu "bangun pagi-pagi" Raysha mengubah lirik akhir lagunya dengan kata-kata candaan dari tantenya. Akhir lagu yg seharusnya "bangun pagi-pagi, sungguh senang/ke sekolah" diubah menjadi "bangun pagi-pagi, ngolet dulu". Ini sebenarnya gurauan utk Raysha yg memang setiap bangun pagi tidak langsung beranjak dari tempat tidur, tp lebih suka bermalas-malasan dulu selama beberapa waktu. Malam ini, saat Raysha mengubah lirik lagu itu, Rasyid tiba-tiba kesal dan berkata, "bukan begitu Nca" dan Raysha pun memberi pembelaan, "tapi kata Ibi begitu" sambil berteriak kesal, dan lagi-lagi seperti menahan tangis. Saya lalu memanggil Raysha, saya memeluknya dan menenangkan. Saya berkata, "iya gpp ya Nca, kn Nca mau nyanyinya begitu kaya Ibi yaa. Tapi mas juga bener, klo di sekolah bu guru nyanyinya gitu Nca". Mimik wajah Raysha pun berangsur kembali netral dan ia pun kembali bermain. Hahaha, Raysha si pendengar dan peniru sejati, dengan polosnya meniru lirik gurauan karya tantenya yg sebenarnya berkonotasi negatif, melabel kebiasaan Raysha setiap bangun tidur.
Dua adegan ini sebenarnya hal yg lucu bagi saya, tapi seandainya saya tidak segera merespon dengan teknik komunikasi produktif kepada Raysha, mungkin akhir ceritanya akan lain. Bisa jadi Raysha akan menangis berkepanjangan karena rasa takut dan juga sedih. Beruntung, saya segera menerapkan teknik komunikasi yg tepat dengan lebih memahami perasaannya baru kemudian memberikan penjelasan yg sesuai. Semoga di lain hari, kami bisa merespon dengan tepat segala luapan perasaan Raysha, sehingga ia merasa dipahami dan tidak perlu lagi menangis.

Comments

Popular posts from this blog

#Hari Kedua# Games Keluarga Multimedia